Welcome to Eno's Blog, I hope you like it:)

Jumat, 04 April 2014

E-Learning



1.      Pengertian E-Learning

E-learning merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa ahli mencoba menguraikan pengertian e-learning menurut versinya masing-masing, diantaranya :
·         Jaya Kumar C. Koran (2002)
e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.

·         Dong (dalam Kamarga, 2002)
e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat
elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

·         Rosenberg (2001)
menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

·         Darin E. Hartley [Hartley, 2001]
eLearning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

·         LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms [Glossary, 2001]
eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone.

E-learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. E-learning secara formal misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahaan konsultan) yang memang bergerak dibidang penyediaan jasa e-learning untuk umum.
E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).


2.      Manfaat E-Learning
Manfaat pembelajaran elektronik menurut Bates (1995) dan Wulf (1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:
·         Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).
·         Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
·         Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
·         Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Dengan demikian diharapkan penerapan e-learning di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat antara lain :
·         Adanya peningkatan interaksi mahasiswa dengan sesamanya dan dengan dosen
·         Tersedianya sumber-sumber pembelajaran yang tidak terbatas
·         E-learning yang dikembangkan secara benar akan efektif dalam meningkatkan kualitas lulusan dan kualitas perguruan tinggi
·         Terbentuknya komunitas pembelajar yang saling berinteraksi, saling memberi dan menerima serta tidak terbatas dalam satu lokasi
·         Meningkatkan kualitas dosen karena dimungkinkan menggali informasi secara lebih luas dan bahkan tidak terbatas

3.      Efektifitas E-Learning
Program e-learning yang efektif dimulai dengan perencanaan dan terfokus pada kebutuhan bahan pelajaran dan kebutuhan mahasiswa. Teknologi yang tepat hanya dapat diseleksi ketika elemen-elemen ini dimengerti secara detil.
Kenyataannya, kesuksesan program e-learning berhubungan dengan usaha yang konsisten dan terintegrasi dari mahasiswa, fakultas, falilitator, staf penunjang, dan administrator.
·           Mahasiswa. Sehubungan dengan konteks pendidikan, peran utama dari mahasiswa adalah untuk belajar dengan sukses, merupakan tugas yang penting, sehingga perlu didukung oleh keadaan lingkungan yang baik, membutuhkan motivasi, perencanaan dan kemampuan untuk menganalisa dengan menggunakan instruksi atau modul yang terbaik. Ketika instruksi disampaikan pada suatu jarak tertentu, menghasilkan tantangan tambahan karena mahasiswa sering terpisah dari kebersamaan latar belakang dan interes lainnya, mempunyai hanya sedikit kesempatan untuk berinteraksi dengan dosen diluar kelas, dan harus bergantung pada hubungan teknis untuk menjembatani gap pemisah mahasiswa di dalam kelas.
·           Lembaga/Universitas. Kesuksesan semua usaha e-learning bergantung juga pada tanggung jawab lembaga/universitas. Fakultas bertanggung jawab pada pemahaman materi dan pengembangan pemahaman tersebut sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa.
·           Fasilitator. Fakultas merasa lebih efisien bila berhubungan dengan fasilitator setempat yang bertindak sebagai jembatan antara mahasiswa dan fakultas. Supaya lebih efektif, seorang fasilitator harus mengerti kebutuhan para mahasiswa yang dilayani dan harapan yang diinginkan fakultas. Lebih penting lagi, fasilitator harus mengikuti arahan yang sudah ditentukan oleh fakultas. Mereka perlu menyiapkan peralatan, mengumpulkan tugas para mahasiswa, melakukan tes, dan bertindak sebagai instruktur setempat.
·           Staf Penunjang. Kebayakan kesuksesan program e-learning berhubungan juga dengan penunjangan fungsi-fungsi pelayanan seperti registrasi mahasiswa, perbanyakan dan penyampaian materi kuliah, pemesanan buku teks, penjagaan copyright, penjadwalan, pemrosesan laporan, pengelolaan sumber daya teknis, dll. Staf penunjang merupakan kebutuhan utama untuk menciptakan keadaan, sehingga e-learning tetap pada jalur yang benar.
·           Administrator. Meskipun administrator biasanya ikut dalam perencanaan suatu program e-learning, mereka sering kehilangan kontak dengan manajer teknis ketika program sedang beroperasi. Administrator e-learning yang efektif bukan hanya sekedar memberikan ide, tetapi perlu juga bekrjasama dan membuat konsensus dengan para pembangun, pengambil keputusan, dan pengawas. Mereka harus bekerja sama dengan personel teknis dan staf penunjang, meyakinkan bahwa sumberdaya teknologi perlu dikembangkan secara efektif untuk keperluan misi akademis kedepan. Lebih penting lagi bahwa didalam mengelola suatu akademik perlu merealisasikan bahwa kebutuhan dan kesuksesan para mahasiswa e-learning merupakan tanggung jawab utama.

4.      Strategi E-Learning
Strategi penggunaan e-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar, diharapkan dapat meningkatkan daya serap dari mahasiswa atas materi yang diajarkan; meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa; meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa; meningkatkan kualitas materi pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dengan perangkat biasa sulit untuk dilakukan; memperluas daya jangkau proses belajar-mengajar dengan menggunakan jaringan komputer, tidak terbatas pada ruang dan waktu. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas, dalam pengembangan suatu aplikasi e-learning perlu diperhatikan bahwa materi yang ditampilkan harus menunjang penyampaian informasi yang benar, tidak hanya mengutamakan sisi keindahan saja; memperhatikan dengan seksama teknik belajar-mengajar yang digunakan; memperhatikan teknik evaluasi kemajuan mahasiswa dan penyimpanan data kemajuan mahasiswa.
Materi dari pendidikan dan pelatihan dapat diambil dari sumber-sumber yang valid dan dengan teknologi e-learning, materi bahkan dapat diproduksi berdasarkan sumber dari tenaga-tenaga ahli (experts). Misalnya, tampilan video digital yang menampilkan seorang ahli mekanik menunjukkan bagaimana caranya memperbaiki suatu bagian dari mesin mobil. Dengan animasi 3 dimensi dapat ditunjukkan bagaimana cara kerja dari mesin otomotif dua langkah.
Menurut Koswara (2006) ada beberapa strategi pengajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi e-learning adalah sebagai berikut :
·         Learning by doing. Simulasi belajar dengan melakukan apa yang hendak dipelajari; contohnya adalah simulator penerbangan (flight simulator), dimana seorang calon penerbang dapat dilatih untuk melakukan penerbangan suatu pesawat tertentu seperti ia berlatih dengan pesawat yang sesungguhnya
·         Incidental learning. Mempelajari sesuatu secara tidak langsung. Tidak semua hal menarik untuk dipelajari, oleh karena itu dengan strategi ini seorang mahasiswa dapat mempelajari sesuatu melalui hal lain yang lebih menarik, dan diharapkan informasi yang sebenarnya dapat diserap secara tidak langsung. Misalnya mempelajari geografi dengan cara melakukan “perjalanan maya” ke daerah-daerah wisata.
·         Learning by reflection. Mempelajari sesuatu dengan mengembangkan ide/gagasan tentang subyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk mengembangkan suatu ide/gagasan dengan cara memberikan informasi awal dan aplikasi akan “mendengarkan” dan memproses masukan ide/gagasan dari mahasiswa untuk kemudian diberikan informasi lanjutan berdasarkan masukan dari mahasiswa.
·         Case-based learning. Mempelajari sesuatu berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadi mengenai subyek yang hendak dipelajari. Strategi ini tergantung kepada nara sumber ahli dan kasus-kasus yang dapat dikumpulkan tentang materi yang hendak dipelajari. Mahasiswa dapat mempelajari suatu materi dengan cara menyerap informasi dari nara sumber ahli tentang kasus-kasus yang telah terjadi atas materi tersebut.
·         Learning by exploring. Mempelajari sesuatu dengan cara melakukan eksplorasi terhadap subyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk memahami suatu materi dengan cara melakukan eksplorasi mandiri atas materi tersebut. Aplikasi harus menyediakan informasi yang cukup untuk mengakomodasi eksplorasi dari mahasiswa. Mempelajari sesuatu dengan cara menetapkan suatu sasaran yang hendak dicapai (goal-directed learning). Mahasiswa diposisikan dalam sebagai seseorang yang harus mencapai tujuan/sasaran dan aplikasi menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam melakukan hal tersebut. Mahasiswa kemudian menyusun strategi mandiri untuk mencapai tujuan tersebut.
5.      Sisi Baik dan Buruk dari e-Learning
·         Sisi baik dari penggunaan e-Learning adalah mahasiswa dituntut menjadi lebih aktif dibandingkan pengajaran secara tradisional hal ini didasarkan bahwa penggunaan e-Learning yang diluar pengawasan langsung dari dosen pengajar, siswa dituntut lebih kreatif dalam menerima materi perkuliahan yang diberikan agar mereka dapat menanyakan atau memberikan tanggapan ketika dosen memberikan keterangan yang kurang jelas atau dapat memberikan tafsiran yang ambigu di dalam perkuliahan. Memberikan jalan menuju sistem belajar-mengajar yang berpusat pada siswa (Student Learning Center).
·         Sisi buruk dari penggunaan e-Learning adalah mahasiswa yang kurang bisa menerima kuliah secara aktif sulit di kontrol secara langsung, sehingga umpan balik yang diberikan oleh mahasiswa kepada sistem e-Learning ini bisa saja lebih didasarkan kepada subyektivitas dibandingkan keobyektivitasan penggunaan e-Learning itu sendiri. Karena menurut pengalaman saya ketika mengikuti kelas e-Learning ini, tidak sedikit mahasiswa yang tertidur atau pergi meninggalkan kelas karena mengalami kebosanan yang mungkin diakibatkan oleh “berat”nya materi yang diberikan oleh dosen, dengan penjelasan yang mungkin dirasa kurang memuaskan sehingga mengakibatkan mahasiswa tersebut menjadi malas untuk mengikuti kelas tersebut.
6.      Implementasi E-Learning di Indonesia
Penerapan e-Learning di Indonesia setidaknya harus memperhatikan kondisi mahasiswa yang bersangkutan. Sebagai pilot project sebaiknya ditawarkan kepada mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi yang cukup tinggi. Mengapa demikian? Karena menurut saya dengan menerapkan pada mahasiswa golongan ini, maka dosen bisa melakukan riset terhadap kinerja dari penerapan e-Learning tersebut tanpa harus khawatir akan mengorbankan hasil evaluasi dari mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi yang “berbahaya” untuk mengikuti e-Learning ini. Dengan memberikan kelas e-Learning pada sebagian mahasiswa dan memberikan kelas tradisional untuk sebagian mahasiswa yang lainnya, dosen pengajar dapat mengevalusi secara paralel nilai yang dihasilkan oleh masing-masing mahasiswa, meningkatkan pola pengajaran sambil mengevaluasi kekurangan dari kelas e-Learning yang diujicobakan.
Ditinjau dari sisi budaya, sebenarnya mahasiswa kita masih belum siap untuk menerima perubahan.  Sebagian besar budaya belajar-mengajar di Indonesia masih bersifat TLC (Teacher Learning Center) di mana mahasiswa sangat bergantung pada kemampuan dosen membawakan materi sehingga selain memiliki kemampuan akademis yang bagus seorang dosen juga dituntut untuk bisa menjadi seorang motivator yang baik. Sedangkan sistem e-Learning ini menurut saya cocok diterapkan untuk budaya yang bersifat SLC (Student Learning Center) yang artinya mahasiswa harus aktif untuk mencari sendiri apa yang dia butuhkan dan berusaha untuk mengetahui sendiri apa kekurangan yang harus dia kejar. Untuk itu, apa yang perlu dilakukan? Tindakan yang realistis adalah dengan melakukan penerapan secara bertahap, memberikan kesempatan perguruan tinggi untuk melakukan riset, seperti yang dilakukan Bapak M. Husni yang masih menjalankan sistem virtual class hingga sekarang, dengan membiasakan mahasiswa belajar secara SLC ( Student Learning Center ), maka akan membuat perubahan ( secara bertahap ) pada pola belajar mahasiswa.
Dari sisi infrastruktur yang disediakan pemerintah sebenarnya sudah cukup baik, JARDIKNAS contohnya. Sistem inherent untuk pendidikan ini masih belum difungsikan dengan maksimal sehingga terkesan pemerintah hanya “mengikuti perkembangan jaman” tanpa tahu harus menggunakannya. Sebenarnya saya memiliki angan-angan bahwa tidak lama lagi seluruh jaringan kabel telekomunikasi yang kita gunakan akan menggunakan fiber optic seperti negara tetangga kita, yang bisa menyediakan bandwith yang cukup besar dengan biaya penggunaan yang hampir sama dengan yang ada di Indonesia ( bahkan lebih murah ).
Yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan Sumber Daya Manusia. Realita yang ada adalah tidak semua tenaga pendidik baik ditingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi bisa menggunakan dan mengoperasikan barang-barang dengan teknologi terbaru, contoh paling gampang adalah komputer. Di Surabaya beberapa bulan yang lalu diadakan pelatihan menggunakan komputer untuk para guru SMA oleh Dinas Pendidikan Kodya Surabaya. Dalam prakteknya hampir 80% dari guru yang ada jarang menggunakan komputer. Pelatihan yang singkat tapi berkelanjutan sangatlah efektif diterapkan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia yang memiliki peran besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Guru dan Dosen.
Solusi tegas apabila e-Learning diterapkan di Indonesia :
-          Sesuaikan materi yang dipakai untuk bahan ajar dengan sistem e-Learning, karena berdasarkan pengalaman e-Learning tidak bisa menggantikan kuliah konvensional, sehingga materi yang digunakan harus berbeda dengan materi yang digunakan untuk kuliah konvensional. Isi materi harus kreatif dan menarik sehingga menimbulkan minat mahasiswa untuk mengikuti materi tersebut.
-          Perbaiki infrastruktur koneksi Internet di Indonesia, penggunaan fiber optic untuk menggantikan coaxial cable sangat diharapkan tindak lanjutnya guna memberikan layanan koneksi Internet yang lebih baik untuk masyarakat. Apabila dirasa masih terlalu berat untuk diterapkan ada baiknya pemerintah memperhatikan dulu inherent untuk pendidikan (JARDIKNAS) karena menurut saya, sangat disayangkan apabila inherent tersebut belum bisa dipakai secara maksimal.
-          Perluas infrastruktur hingga ke daerah-daerah, akhir-akhir ini pemerintah menggalakkan internet masuk desa tapi tetap perhatikan point no. 2 yang diatas. Karena percuma saja walaupun jangkauan luas tapi koneksi masih tersendat-sendat atau bahkan mati total.
-          Memperbaiki budaya disiplin masyarakat terutama dalam hal kedisiplinan dalam proses belajar-mengajar, hakekat seorang siswa adalah menuntut ilmu sangat penting di dalam penerapan e-Learning apalagi di era globalisasi seperti sekarang, mahasiswa dituntut untuk lebih bersifat SLC ( Student Learning Center ) daripada TLC ( Teacher Learning Center ) dalam proses belajar mengajar, sehingga dengan penerapan e-Learning akan meningkatkan kualitas keilmuan siswa, bukan malah malas karena tidak diawasi dosen pengajar.
-          Mempermudah siswa untuk mendapatkan fasilitas yang mendukung, misalnya mencicil notebook, seperti yang dilakukan oleh ACER di kampus saya ( Institut Teknologi Sepuluh Nopember ) dengan memberikan kemudahan cicilan 200 ribu perbulan untuk mendapatkan notebook ACER.
-          Mengajak seluruh elemen yang berkepetingan ( terutama mahasiswa ) dengan cara yang baik, karena kebanyakan sifat mahasiswa yang resisten terhadap sesuatu yang baru dan bersifat “dipaksakan”. Alangkah baiknya pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan yang bertahap bukan pendekatan yang bersifat spontan dan radikal. Pendekatan yang baik sangatlah penting, ketika pendekatan yang dilakukan benar dan bisa diterima maka akan memberikan pengaruh resisten yang kecil.
-          Diadakan pelatihan guna meningkatkan Sumber Daya Manusia yang ada. Karena selain infrastruktur yang didukung, sumber daya manusianya juga penting untuk ditingkatkan, adakan pelatihan singkat yang berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan Guru dan Dosen dalam menggunakan teknologi terbaru.

7.      Implementasi E-Learning di Unpad



Tidak ada komentar:

Posting Komentar